Menyapa Kepulan Kawah Semeru(2)

Kamis,2 Juni 2011

09.30

Kami sampai di pos 2 setelah melalui trek menurun. Sebagaimana pos 1, pos dua ditandai dengan shelter tempat istirahat para pendaki. Hei kawan!, coba lihat kearah depan pos 2, puncak apakah itu? kenapa pula dia mengeluarkan asap dari puncaknya? itukah puncak mahameru itu? pertanyaan itu muncul menggebu dalam hati saat melihat pemandangan didepan pos 2. Saya tiba-tiba takjub memandangnya. Iya tidak salah lagi, itu adalah puncak Semeru yang terkenal itu. Sambil melupakan sejenak rasa lelah, sayapun mengabadikan gambar puncak Semeru dari kejauhan. Tengah menikmati pemandangan menakjubkan ini, sekelompok bule lewat, sepertinya mereka baru turun dari puncak. Saya sempatkan menyapa, dari situ saya tau mereka berasal dari Jerman dan Perancis. Karena tidak sabar ingin segera mencapai puncak, pilihan mampir istirahat di pos 2 pun dibatalkan. Perjalananpun dilanjutkan menuju pos 3. Perjalanan menuju pos 3 cukup melelahkan, karena kami banyak menemui tanjakan yang cukup membuat nafas ngos-ngosan. Sesekali kami isirahat dijalan, menikmati air putih dan berbagi coklat dengan kawan-kawan yang lain. Memanggul keril berisi tenda dan logistik membuat punggung saya terasa agak perih.

Puncak Semeru terlihat dari pos 2

Tim tengah istirahat

Pos 3

10.40

Kami sampai juga di pos 3, ditandai shelter yang serupa seperti pos-pos sebelumnya. Kami memilih istirahat cukup lama disini. Kami juga bertemu dan ngobrol dengan kawan-kawan pendaki dari Semarang. Dan tentu saja hal yang tidak bisa terlupakan adalah mengabadikan momen dengan kamera. Kami rasa istirahat 20 menit sudah cukup untuk memulihkan tenaga. Selanjutnya siap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 4, Ranu Kumbolo. Pukul 11.00 kami berangkat, meninggalkan pos 3. Alamak! saya kaget ternyata langsung disambut oleh tanjakan dahsyat, mungkin kemiringannya hampir 70 derajat. Walhasil, tidak ada tongkat daki tanganpun jadi, lebih tepatnya merayap dengan 4 kaki. Setelah melewati lereng yang cukup menanjak, sesekali diselingi dengan turunan. Sampai akhirnya tiba pada lereng terakhir berupa turunan. Dan, menakjubkan! ada yang berkilau dibawah sana, itukah Ranu Kumbolo yang namanya sering saya dengar itu? dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara orang, semakin dekat suara itu semakin jelas. Terlihat mereka sedang asik mengutak-atik kamera DSLR lengkap dengan tripodnya. Para fotografer, pendaki dari Surabaya ini sedang mengabadikan ‘kecantikan’ danau di tengah pegunungan ini yang nampak sangat menawan dari atas lereng.

Ranu Kumbolo nampak dari atas bukit

12.30    Sampai di Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo

Sampai di Ranu Kumbolo kami beristirahat sejenak, meregangkan otot-otot setelah cukup lama berjalan. Kami lalu bermusyawarah, apakah akan melanjutkan perjalanan dan nge-camp di Kalimati atau bertahan semalam di Ranu Kumbolo. Akhirnya disepakati untuk bermalam di Ranu Kumbolo, karena salah satu anggota tim (madko) mengalami cedera. Menikmati sore di danau Ranu Kumbolo memang mengagumkan, sembari beristirahat, sholat dan makan.

Nampak Madko sedang peregangan, memulihkan cedera otot

Sujud kami ya Rabb, karena telah sampai Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo

Saat malam tiba, praktis kami tidak melakukan kegiatan apapun. Karena sudah sangat letih, kami memilih untuk istirahat guna mengembalikan stamina. Disekitar kami sudah banyak tenda, suasan Ranu Kumbolo semakin ramai. Dari jauh terlihat pendaki lain menyalakan api unggun, bahkan ada salah satu pendaki yang tidur didekat api unggun tersebut dan sepertinya ia tidak membawa tenda. Sangat beresiko, terlebih jika turun hujan.

menikmati malam di Ranu Kumbolo

Hari Jum’at, 3 Juni 2011

Semakin malam suhu semakin bertambah dingin, kami sesekali terbangun oleh dinginnya udara Ranu Kumbolo. Sampai benar-benar terbangun saat fajar menyingsing. Kami saling membangunkan, mengingatkan untuk sholat subuh. Udara terasa sangat menusuk, membuka sarung tangan dan topi hangat bukan menjadi pilihan yang menarik. Tapi semua harus dipaksakan demi berwudhu di pinggir danau. Suara adzan yang sangat merdu dikumandangkan oleh Refi, terasa sangat menentramkan, menghangatkan setiap hati yang mendengarkanya. Setelah semua siap, kami melaksanakan sholat subuh berjama’ah. Ada beberapa kawan-kawan pendaki perempuan dari tim lain yang turut berjama’ah dengan kami.

suasana pagi Rakum

10.00

Setelah sarapan, packing dll, kami melanjutkan perjalanan  menuju Kalimati. Kami langsung berhadapan dengan tanjakan cinta. Rasanya dekat, tapi ternyata cukup membuat napas terengah-engah.

tanjakan cinta

Rasa capek melewati tanjakan cinta seakan terobati dengan pemandangan yang eksotik, padang bunga lavender. Kami menuruni lereng untuk melewati padang ini lalu masuk ke hutan yang tidak terlalu lebat. Matahari terasa makin terik, nampaknya waktu dhuhur sudah tiba, melihat kawan-kawan pendaki lain yang istirahat ditanah yang agak lapang, saya juga ikut istirahat sambil menunggu anggota tim dibelakang. Rasa lelah membuat sebagian besar pendaki memilih beristirahat ditempat yang sama, akhirnya setelah lumayan ramai, saya menginisiasi untuk melaksanakan sholat jum’at. Anggota tim kami sigap mengambil peran, Refi sebagai muadzin, sedang saya memberanikan diri menjadi khotib. Sungguh pengalaman berharga, melaksanakan sholat jum’at di Semeru.

13.04   Sampai Kalimati

Saya berusaha berjalan lebih cepat, selain karena kaki sudah capek, juga agar lebih dulu mendirikan tenda. Maklum suasana pendakian sedang ramai, sehingga sampai dilokasi lebih awal mempermudah kita memilih alternatif tempat camp.

Kalimati

suasana camp dikalimati

Selanjutnya kami membagi tugas tim. Sebagian mengambil air dan sebagian memasak. Di Kalimati untuk mengambil air butuh waktu  kurang lebih 15-20 menit mengikuti kali kering berpasir, mungkin karena inilah dinamakan Kalimati. Setelah acara masak dan makan-makan kelar, kami beristirahat menikmati sore di Kalimati. Suasana sore tiba-tiba ramai dengan adanya letusan Semeru tiap 15-20 menit, letusan yang bersahabat dan terlihat jelas di Kalimati. Dalam hati saya berdo’a mudah-mudahan besok saya bisa menikmati fenomena ini dari jarak dekat.

11.00  Tim memulai perjalanan summit attack

Setelah semua persiapan logistik, senter dan lain-lain rampung, kami bergabung dengan tim lain untuk bersa-sama menaklukkan puncak Semeru. Setelah melewati hutan berpohon, kami kemudian melintasi jalan setapak dan jurang-jurang menganga, dengan beberapa bagian dipasang pipa-pipa besi sebagai pembatas walau kadang menurutku tidak banyak membantu jika terpeleset. Cemoro tunggal menjadi penanda terakhir adanya pepohonan, seluruh hamparan sekarang berubah menjadi pasir. Menjulang tinggi puncak Semeru dengan kemiring kira-kira 60 derajat. Sangat sulit mendaki dengan kondisi seperti ini, ditambah angin yang berhembus sangat dingin. Ditengah pendakian menaklukkan puncak, saya melihat dua orang pendaki lain yang nampaknya mengalami kelelahan dan tertinggal oleh teman satu tim-nya. Saya hanya bisa membantu dengan beberapa potong makanan dan madu serta mencoba memberikan motivasi untuk sama-sama bisa sampai ke puncak. Kami berjalam beriringan hingga matahari mengintip dari ufuk timur, indah sekali. Kami lalu berhenti untuk istirahat, nampaknya puncak masih terlalu jauh. Menikmati sunrise bisa menjadi obat penenang untuk sementara waktu.

Setelah tau posisi matahari saya mencari lereng untuk tempat sholat. Karena posisi lereng yang cukup miring, sehingga harus diratakan dengan kaki pada beberapa sisi. Sujud di lereng seperti ini memang sangat nikmat. Usai sholat subuh, muncul pendaki lain dari arah belakang. Ternyata dia adalah rekan satu tim teman-teman dari Jakarta yang tadi saya tolong. Dia bertugas sebagai penyapu, kalo-kalo ada yang tertinggal atau cedera.

Usai sholat tiba-tiba saya teringat dengan teman-teman satu tim yang lebih dulu muncak, sementara semua logistik ada di carrier yang saya bawa. Akhirnya saya memutuskan untuk pamit kepada teman yang tadi dan berjalan lebih cepat hingga ketemu dengan Madko,Rony dan Fahmy. Untung mereka belum terlalu jauh jaraknya. Kami beristirahat sejenak dan menikmati roti dan air yang kami bawa, pendaki lain juga ikut menikmati.

Pemandangan dari lereng semeru

Nampak Madko yang sedang istirahat

Setelah istirahat cukup lama, kami melanjutkan pendakian dengan sisa-sisa tenaga yang kami miliki. Kami berlima punya alasan masing-masing kenapa kami bersikeras untuk mencapai puncak. Seperti Madko misalnya tidak mau dikatakan pengecut oleh ichank dan kawan-kawan lab yang lain, puncak adalah alasan untuk tidak diolok-olok setiba di Surabaya nanti. Fahmy dan Rony nampaknya mirip, yaitu karena rasa penasaran yang mengharu-biru di dada. Suatu kebanggaan tersendiri sebagai pemula bisa menaklukkan puncak Semeru. Refi lain lagi ceritanya, saya tidak tau persis kenapa dia tergesa-gesa mendahului kami berempat, walau akhirnya saya tau bahwa ia terobsesi untuk membaca Al Qur’an di puncak Semeru (Ngarang..:)). Sementara saya tentu saja ingin menunaikan salah satu mimpi-mimpi kehidupan, menapaki puncak tertinggi di pulau Jawa.

Jarak puncak kian dekat, suasana hati berkecamuk. Setelah sekian lama berpeluh, kami akhirnya menapakkan kaki di puncak Semeru. Kami berbaring di timpukan batu, melepas pandangan, takjub!. Suara Takbir bergemuruh di dada kami. Tepat pukul 07.00 pagi kami mencapai puncak Semeru. Tidak lama melepas lelah, kami dikejutkan oleh kepulan asap yang keluar dari kawah semeru. Allah mengabulkan do’a saya, gumamku dalam hati. Ini adalah momen yang paling dinantikan oleh setiap insan yang memuncaki Semeru. Aku tak bisa berkata-kata, aku hanya diam menatapnya.

Sambutan Mahameru untuk Kami🙂

Menutup sesi petualangan kali ini, kami berfoto bersama dengan gembira. Semoga lain kali kita bisa kembali ke sini dengan istri masing-masing🙂.

Tim Berpose di Puncak Semeru

Sejenak aku menikmati pesonamu

Mereguk dingin bekumu

Menyelami indah danaumu

Menyusuri punggung terjalmu

Dalam dekapan suci awanmu

Butir-butir pasir bersama anginmu

Kau sambut aku dengan letupan lembutmu

Bersama kepulan asap tebal yang kau muntahkan dari kawahmu

Seakan memberikan ucapan selamat datang padaku

Untuk orang yang baru pertama menatapmu

Semoga suatu saat kita bertemu lagi…

Semeru..Sungguh Maha Indah bagi yang telah Menciptakanmu

Dipublikasi di Jejak Pendakian | 2 Komentar

Menyapa Kepulan Kawah Semeru(1)

Setelah sekian lama berkeinginan mendaki Gunung Semeru, kami berlima (Muammar Kadhafi, Rizqi Haryono, Fahmy Ardiansyah, Bakhtiar Ali Zamroni, dan Refi Efendi) bersepakat untuk mencoba tantangan mendaki puncak tertinggi pulau Jawa. Berawal dari ajakan Fahmi waktu chating di FB, lalu ide pendakian terus bergulir dan terakhir pagi sebelum berangkat, Refi memutuskan untuk ikut tim kami menggantikan salah satu teman yang batal berangkat.  Berikut kisah perjalanan kami berlima.

Rabu, 1 Juni 2011

14.00

Setelah melakukan packing berbagai kebutuhan pendakian, kami start dari Lab. Hidrodinamika dengan bersepeda motor. Kami langsung menuju Medical Center ITS untuk meminta surat keterangan sehat dari dokter. Karena surat keterangan sehat menjadi syarat mutlak pendakian, kalau tidak  ada maka jangan berharap bisa mendapatkan tiket pendakian. Namun kami gagal mendapatkannya, karena prosedurnya terlalu birokratif. Kami lantas banting setir menuju dokter lain, dan alhamdulillah berhasil dengan membayar Rp.5.000,- per orang. Tanpa membuang waktu kami lantas tancap gas menuju terminal Bungurasih Surabaya.

14.45

Kami sampai diterminal Bungurasih. Cepat-cepat kami menuju tempat penitipan motor, lalu kami bergegas menuju tempat pemberangkatan bus antar kota. O ya ongkos penitipan motor di Bungur Rp.2.000,- per hari. Setelah membeli karcis masuk seharga Rp.200,- per orang, kami langsung masuk dan mencari bus yang akan membawa kami menuju terminal Arjosari Malang. Dengan mempertimbangkan faktor kenyamanan, kami memutuskan menaiki bus Restu AC, namun dengan tarif biasa, yaitu Rp.8.000,- per penumpang.

15.07

Bus yang kami tumpangi berangkat dari Bungurasih menuju Arjosari. Ditengah jalan, banyak sekali penumpang yang naik, sehingga banyak yang rela berdiri. Namun rasa sesak bus sedikit lapang oleh alunan gitar dan biola pengamen jalanan, baru kali ini saya menikmati karya seni dari pengamen. Menyanyikan lagu Iwan Fals,  dengan suara vokal dan tenor. Keren sekali, hingga membuat rasa ngantuk lenyap seketika. Inilah ngamen yang berkualtas🙂

17.15

Kami menginjakkan kaki di terminal Arjosari Malang. Kawan kami yang belum menjama’ sholatnya segera menuju masjid terminal (karena didunia arab tidak ada istilah musholla, semua dikatakan masjid asal menjadi tempat khusus untuk sholat) untuk melaksanakan sholat asar. Lepas sholat, Madqo (sapaan akrab untuk Rizqi) mencari tau apakah masih ada angkot yang menuju Tumpang. Kabar dai Madqo, masih ada tiga angkot tersisa. Kami lantas menuju angkutan tersebut dan langsung menaikan barang-barang bawaan kami.

17.44

Kami berlima menuju Tumpang. Didalam angkot kami menikmati popcorn yang di bawa oleh Refi, berbagi dengan anak kecil yang tengah duduk manis disamping Ibunya. Kami bercerita macam-macam, hingga saya berkesimpulan bahwa cerita-cerita itu menunjukan semakin penasarannya kami dengan Semeru, karena bagi kami berlima ini adalah pendakian perdana kami ke Semeru, bahkan beberapa diantara kami ada yang baru pertama mendaki gunung. Terbayang bagaimana menggebunya perasaan kami berlima, dengan membawa misi menaklukan puncak tertinggi Pulau Jawa.

18.26

Asik bercerita, membuat kami lupa bahwa angkot yang kami tumpangi telah sampai ditempat tujuan. Kami baru tersadar ketika Pak Supir memberitau bahwa kami telah sampai di Tumpang. Saya atau mungkin teman-teman yang lain agak tidak percaya kalau sudah sampai Tumpang. Dalam benak saya tumpang tidak seramai ini. Di sini ada pasar, indomaret, warung-warung dipinggir jalan, penjual gorengan sampai penjual aksesoris Arema. Ketika mencoba meyakinkan diri, seorang pemuda mendekati kami, sepertinya dia sudah tau kami akan menuju Semeru. Kami lalu dipersilahkan menitipkan barang di depan Indomaret, kata pemuda tersebut, kami bisa berangkat kalo sudah ada pendaki lain sebagai teman bareng. Karena satu Jeep jatahnya 15 orang agar satu orang bisa membayar masing-masing Rp.30.000,-. Sambil menunggu pendaki lain kami lantas makan malam diwarung lalapan sebelah Indomaret. Aroma sambal lalapan saja sudah membuat perut kami keroncongan, ternyata lalapan disini tidak aromanya saja, tapi rasanya juga enak. Kami makan dengan lahap, bahkan Refi beberapa kali nambah sambal. Enak memang, hanya dengan Rp.6.000,- kita sudah dapat satu porsi lalapan dan nasi plus teh hangat. Habis makan kami lantas sholat magrib dan isya dengan menjama’ dimasjid dalam gang tidak jauh dari indomaret. Usai sholat, kami kembali dan berbincang dengan beberapa pemuda yang nongkrong didepan indomaret, dari sini saya tahu bahwa pemuda yang menyambut kami pernama Pandu, lalu ada juga yang lain bernama Herman. Herman lantas mengajak kami kerumahnya, katanya kami bisa langsung berangkat ke Ranupani dengan menumpang Jeep, hanya dengan Rp.50.000,- per orang. Karena tidak ada kepastian menunggu, kami lantas mengikuti ajakan Herman. Kami berlima kerumahnya dan tidak lama setelah sampai dirumahnya, kami didatangai bapak-bapak yang menawarkan sewa Jeep masing-masing orang Rp.55.000,-. Dengan berat hati kami kemudian menyetujuinya, karena hari semakin malam tanpa kepastian. Katanya, kami akan diikutkan bersama barang yang rencananya akan diantar ke Desa Ngadas sebelum Desa Ranupani. Bapak itupun lalu pergi meninggalkan kami setelah berjanji akan menjemput kami dengan Jeep.

21.15

Tengah terlelap tidur, saya terkaget karena dibangunkan oleh teman-teman bahwa supirnya sudah datang.  Saya mencoba memulihkan kesadaran, lalu mengikuti langkah yang lain menuju Jeep. Saya memutuskan untuk duduk didepan disamping Pak. Supir. Tidak lama setelah itu saya pun tertidur, sekali-kali tersadar ketika terjadi perubahan tekanan udara yang dirasakan oleh telinga, hingga memaksa saya untuk memakai teknik selam dengan menutup hidung lalu ditekan hingga keluar udara ditelinga. Udara didalam terasa hangat oleh panas mesin mobil, walau udara diluar terasa beku.

22.30

Jeep yang kami tumpangi berhenti di Desa Ngadas, lalu menurunkan muatan. Teman-teman membantu menurunkan pupuk dari dalam jeep. Setelah semua rampung, kami lantas melanjutkan perjalanan. Sungguh indah memandangi bintang-gemintang dimalam beratap langit…:)

Tampak Refi,Fahmi dan Roni sedang membantu pak supir

23.17

Kami sampai di Desa Ranupani, tempat lapor bagi para pendaki. Didepan kantor pelaporan juga telah ada beberapa pendaki lain yang istirahat. Setelah membayar ongos jeep ke pak supir, namanya Pak Sutris. kami lantas istirahat di teras masjid. Kami terlelap dalam buaian dinginnya Ranupani.

Kamis, 2 Juni 2011

04.00

Saya terbangun dan membangunkan kawan-kawan yang lain. Kami lantas siap-siap untuk sholat subuh. Setelah wudhu saya mencoba membuka pintu masjid dari sisi yang lain. Alamak..ternyata masjid tidak dikunci. Kenapa semalaman kami berjuang melawan dingin diluar ya?, ah semua sudah terlanjur. Kami lalu menyegerakan untuk sholat sambil menahan dingin. Usai sholat Refi terdengar merdu melantunkan tilawah dipojok masjid, sedang kami berempat sibuk ngobrol membicarakan hal tidak penting untuk melawan kebekuan pagi di Ranupani. Setelah selesai packing  saya dan madqo menuju kantor untuk mengurus perijinan.

05.15

Kami mengurus ijin pendakian dikantor Balai Taman Nasional Resort Ranupani. Kantor masih tutup, baru buka jam 8 pagi. Karena kawatir tidak ada teman untuk mendaki, kami lantas mencoba membangunkan Pak Rizal, petugas perijinan. Sebenarnya sungkan sekali, tapi terpaksa kami lakukan karena kami berlima sebelumnya belum ada yang ke Semeru, sehingga harus mencari teman bareng. Walau dengan berat hati, Pak Rizal akhirnya mau melayani kami. Saya lalu mengisi form, dan membayar tiket sebesar Rp.5.750,- untuk masing-masing orang. Ini sudah didiskon karena kami mengaku sebagai Mahasiswa. Sedangkan untuk umum sebesar Rp.7.000,- per orang. Perijinan beres, dan kamipun sarapan di warung dekat kantor perijinan. Dengan menu nasi goreng lauk telur plus teh panas. Nikmat sekali apalagi saat dingin seperti ini. Dengan Harga Rp.10.000,- untuk satu porsi.

Resort Ranupani

Suasan Sarapan

07.40

Kami memulai perjalanan pendakian Semeru. Kami menyusuri jalan aspal bersama lima pendaki lain yang datang dari Jakarta. Tidaka lama setelah itu, kami mengambil jalur kanan, mulai menaiki bukit pertama. Dari atas bukit nampak jelas suasana perkebunan dataran tinggi. Bentangan bukit sejauh mata memandang, deretan tanaman sayur berbaris rapi. Saya ingin berlama-lama memandanginya, tapi harus diurungkan karena perjalanan kami masih teramat panjang untuk mencapai puncak Semeru.

09.00

Kami tiba dipos 1 bersamaan dengan beberapa pendaki lain. Saya sempatkan berkenalan dengan mereka, ada beberapa anak UI yang ikut dalam rombongan tersebut. Dari penampilan mereka, terlihat sekali mereka adalah pendaki-pendaki yang berpengalaman. Tidak lama setelah itu saya melanjutkan perjalanan, mengejar teman-teman satu tim yang terlebih dahulu berangkat dari pos 1. Menuju pos 2 saya melewati jalur landai dan punggungan, hanya sekali-sekali saja bertemu tanjakan kecil,sehingga tidak terlalu menguras tenaga.

Dipublikasi di Jejak Pendakian | 7 Komentar

DECK STRUCTURES

Characteristics

  • Accommodate the equipment & support modules and appurtenances
  • Structural concept is influenced by the type of substructure and the method of construction
  • The selection of the structural deck concept is made in close cooperation with the other disciplines
  • Deck structures design considerations: inplace condition, fabrication, load out, transport and installation
  • Deck leg structures: space frame

Functions

  • well control
  • support for well work-over equipment
  • separation of gas, oil and non-transportable components in the raw product,
  • support for pumps/compressors required to transport the product ashore
  • power generation
  • accommodation for operating and maintenance staff.

Concepts

  • single integrated deck (up to approx 100 MN)
  • split deck in two four-leg units
  • the integrated deck with living quarter module
  • the modularized topside consisting of module support frame (MSF) carrying a series of modules.

Integrated Topside

Deck Structural Elements

  • Floors (steel plate or grating)
  • Deck stringer (H beam,etc)
  • Horizontal bracing
  • Deck beams
  • Primary girders
  • Vertical trusses or bracing
  • Deck legs à form the columns of the deck structure

Module Support Frame (MFS) for Gravity Based Structure (GBS)

Module Support Frame (MFS) for Jacket Based Structure (JBS) with Modules

Space and Elevation

  • 1st step inventarisation of all design requirements for deck structures
  • The lay-out of the deck is determined by the faclities
  • Deck area & elevation is determined by:
    • Area required for equipment, piping & cable routing
    • Vertical clearence, access requirement
  • The elevation of the lowest decks depends of the environmental conditions (min 1.5 m above wave crest)
  • Distance of the decks of the top sides : 6 – 9 m
  • Important factor: the positioning of the flare, crane, helideck, logistic & safety provisions

Example of cellar deck elevation assessment

Deck Lay-out Requirement

  • Equip, piping & cables-supporting: comply to the operation & safety requirements
  • Living Quarter & Helideck:
    • Helideck located on the top of LQ
    • Obstacle free are required for safe landing and take off of the helicopter and prevailing wind direction
    • The distance between LQ with helideck and the hazardous area should be minimised
    • The situation of the food container platform is impotant viz the crane and LQ storage room
  • Gas Compressor Module:
    • Sufficient free deck space provided
    • Upper deck is selected for locating additional compressors and related equipment close to the export riser
  • Water or gas injection module:
    • the location closer to the wells
  • Deck Crane:
    • Location selected to obtain maximum deck coverage and enable the crane operator to keep eye contact with the lifted object and supply vessel
    • Location outside the obstacle free area of the helideck and should not interfere with future facilties
    • Preferable on deck leg
  • Vent/flare boom or stack
    • located outside the hazardous area and as far as possible away from the helideck
    • at least exceed the helideck elevation by 100 feet and heat radiation shall be checked
  • Micro wave tower
    • no obstacles in front of the antennas are allowed.
    • Cable and cage ladders, platforms and hoisting provisions are required.
    • A stiff support is required in order to comply with the stringent deflection criteria
  • Survival capsules and man overboard crane
    • The supporting structures for these items usually cantilever from the main structure
  • Walkways, ladders and stairs
    • Walkways should be kept obstacle free, non-slippery and have sufficient width to allow evacuation of personnel on stretcher.
  • Cladding, walls, doors and louvres
    • The type of cladding depends on the operati onal requirements and the preference of the oil company
    • walls and doors may have to satisfy specified fire resistance demands
    • Louvres may be used to allow for natural ventilations, denying entry of rain, snow or birds
  • Lay down areas
    • Lay down areas often cantilever from the main structure .in order to allow access to the lower deck levels by the deck crane, without providing hatches through the decks.
  • Hatches
    • Access to lower decks within crane reach is required to enable maintenance, repair and platform modification. These hatches should be early identified.
  • Risers, caissons, sumps
    • Riser; the section of the pipeline which rises from the sea bottom to the deck
    • Caissons and sumps are hung from the cellar deck
    • introduce significant vertical and horizontal loads in the deck.
  • Drainage provisions
    • Drainage systems serve to collect oil-polluted rainwater to prevent spilling into the sea as well as spillage,
    • collected in drip pans under the equipment.

Deck Configuration

Deck Configuration (Atti-CNOOC)

Deck Loads

  • The application of live load requires considerable engineering judgement.
  • Three basic decisions are required:
    • the magnitude of the load to be app1i ed, which depends on the considered structural items
    • the area to which live load is applied, described as non-occupied area.
      • For local strength, the walkways, the escape routes, etc. are considered non-occupied by equipment and thus loaded by live load.
      • For overall strength, the walkways, the escape routes, etc. are considered to remain free and consequently no live load is applied.
    • the arrangement of loads to generate max. stress à unusual in offshore
  • To control the design process, weight engineering shall be performed

Selection of main structures

  • Truss type or portal-frame type
  • The selection of the main structure concept is linked with the decision of the position of the longitudinal structure in the cross-section.
  • In a 20-25 m wide deck, trusses generally will be arranged in 3 longitudinal rows: centre line and both outer walls
  • portal frames will be arranged in 2 longitudinal rows, approx 14-16 m apart, allowing floor cantilevers of approx. 5 m

Truss Type Structure Platform

Frame Type Structure Platform

Comparison of concepts for main structures

Deck Floor Design

  • Deck structure concept
    • Floorsystem                             : plate versus grating
    • Mainstructure                          : truss versus portal frame
    • Floor panel concept                 : stacked versus flush
    • Floor stabilization underfloor : bracing versus plate

________________________Production __  Wellhead

Structual item ___________________Typical Span

1.         floor plate                                                  1 m                  1 m

2.         stringer (longitudinal)                         5 m                  n.a

3.         deck beam (transversal)                     15 m                9 m

4.         main structure (longitudinal)          15 m                15 m

5.         column

Floor plate

  • Options:
    • flat plate, chequered plate or tear plate.
  • option for providing slip resistance is coating with sandifinish.
  • thickness is 8-10 mm and 6 mm for lighter loaded floors.
  • The floor plate can act as flange depends to the different beams
  • Special attention is required to ensure that all welds between floor plate and the underlaying structure do not form brittle points

Deck Floor

Stringer

  • distance: 1 m, and spanning 5 m
  • stacked
    • with continuous fillet weld around flange contact area and generally without stringer web stiffening
  • flush
    • welding between deck beam, requires top-flange removal for the stringer near its end and perfect fit between deck beams and floor + deck beam prefabrication.

Deck Beams

  • Deck beams supporting the floor panels or providing direct support to major equipment
  • The major joint in the deck beam is that with the main structure.
  • The joint configuration is strongly determined by prefabrication concept and elevation of flanges

Stacked vs Flush Floor Concept

  • Stacked floor concept
    • transverse and longitudinal main I beam is positioned lower
    • The lower flange typical 40 mm thick
    • connection for the top flange of the transverse deck beam is more problematic
    • Direct welding of the deck beam top flange to the web should be rejected
  • Flush floor concept
    • Detailing is quite dependent of the prefabrication policy
    • To allow top flange welding a strip of the floor plate will be fitted and welded as last item

Stringer Joint over Deck Beam for Stacked Floor Concept

Full-Stacked Floor Concept

Detail Stringer Joint over Deck Beam for Stacked Floor Concept

Tranverse Deck beam and Main Structure in Flush Floor Concept

Horizontal bracing

  • Choices aspects
    • elevation
    • configuration
  • Elevations
    • The bracing member has to pass with sufficient clearance under the stringers, penetrate the web of the deck beams at sufficient distance from the lower flange and requires good access for welding of the joint
  • Configuration
    • X – braces between the column
    • ◊ – braces between beam-midspans

Underfloor Bracing

Connection of Underflor Bracing to the main column in Fush Floor Concept

Atti Deck Structure (CNOOC)

ZUF – Main Deck (BP ndonesia)

Dipublikasi di Offshore & Civil Engineering | Meninggalkan komentar

Langkah Penggunaan Software MAG2DC(2)

Rermanent Inversion

Remanence

  • Remanence dari body dimasukkan secara langsung, jika informasi tentang pleomagnetic diketahui, atau telah di-invert untuk menemukan solusi yang paling optimal.

Display Options

  • Ada banyak cara untuk menampilkan model maupun data lapangan.

Plan View

  • Panjang differing strike pada bodies model dapat dilihat diatas.

Menggambar Grid pada Model

  • Grid pada model mungkin telah di overlain, untuk menopang penempatan bodies. Jika diperlukan, vertice dari body dapat di snap ke grid points.

Memperbesar dan Mengecilkan

  • Pandangan ari model dapat diperbesar pada semua titik. Dapat dilakukan dengan cara menggambar ‘rubber band’ menggunakan mouse, atau dengan memasukkan koordinat vertikal dan horizontal dari display area.

Memodifikasi Data Bidang

-Ada beberapa cara untuk memodifikasi data field.

Menyaring Data

  • Data noisy field dapat diperhalus dengan aplikasi 3, 5, atau 7 point moving average filter. Berat dari filter diset terlebih dahulu, agar gradients dan edges dapat dikalkulasi. Sebelum di-applied, parameter yang lain harus diuji secara interaktif terlebih dahulu.

Penyaringan Data

Memodifikasi Bidang Regional

  • Suatu bidang linier atau spline bidang regional 3 dimensi dapat dihapus dari data. Spline akan melewati point yang telah dipilih dengan cara mengklik dengan menggunakan mouse.

Cara menghapus bidang regional

Meringkas Bagian dari Profil

  • Jika terdapat suatu profil yang panjang, mungkin saja diinginkan untuk memilih bagian lain untuk dimodelkan pada hari yang berbeda. Hal ini sangat mudah dioperasikan pada MAG2DC.; tombol mouse yang sebelah kiri memilih boundary sebelah kiri dari data untuk dikerjakan, sedangkan tombol kanan mouse untuk memilih boundary sebelah kanan.

Bantuan

  • Fitur hypertext bantuan dari Windows tersedia untuk  MAG2DC.
Dipublikasi di Teknologi Reservoir | Meninggalkan komentar

Langkah Penggunaan Software MAG2DC

MAG2DC

MAG2DC adalah software untuk memodelkan magnetic, resistivity dan gravity data.

Kelebihan:

–     Software ini sangat simpel dan mudah digunakan.

–     Kita dapat memodelkan magnetic, resistivity dan gravity data secara cepat.

Kekurangan:

–     Kurang fleksibel,

–     Merupakan software yang sudah tua,

–     Mudah crash, atau bentrok dengan software lain dalam satu computer.

Spesifikasi Software:

–     Maximum number of data points 650 Win 3.1, 4096 Win’95

–     Maximum number of bodies per model 16 Win 3.1, 50 Win’95

–     Maximum number of corners per body 50

–     Output supported to

  • ASCII, HP-GL, DXF
  • Plots to any Windows supported device.

–     Units supported

  • Km or m for distance.
  • C.G.S. or S.I. for susceptibility

Hardware: An IBM compatible PC.

Software: Windows 3.1 atau ’95 atau diatasnya

Langkah-Langkah Penggunaan Software MAG2DC

  • MAG2DC dapat memodelkan forward modeling dan inversion dari data magnetik. Contoh model dapat dilihat seperti berikut ini:

Contoh Model MAG2DC

  • MAG2DC dapat menampilkan body penyusun dari model yang memiliki kepekaan atau susceptibilities. Warna pada model sesuai dengan nilai susceptibilities yang dimiliki model, warna-warna ‘dingin’ mewakili nilai yang rendah, sedangkan warna-warna ‘panas’ mewakili nilai yang tinggi. Skala warna abu-abu kadang juga dipakai. Bearing dari profil ditunjukkan oleh kompas yang terletak di sudut kanan atas monitor.

Dialog box Body Properties

  • Untuk mengubah properti dari suatu body, kecuali bentuk dan remanence, cukup dengan men-double click mouse pada target. Maka dialog box akan segera muncul.
  • Nomor dari body ditunjukkan di kiri atas dialog box. Untuk mengubah properti dari body sebelum/sesudah body yang ditampilkan saat ini, tekan tombol spin.
  • Ada beberapa jalan untuk merubah body properties. Sebagai contohnya, untuk merubah kepekaan, masukkan nilai yang baru kemudian tekan tombol calculate. Sehingga, model akan dihitung dan digambar kembali. Cara lain adalah dengan, menekan spinbutton kemudian nilai kepekaan akan bertambah, kenaikan tersebut ditunjukkan pada box di samping kepekaan, kemudian mengkalkulasi dan membaharui model. Pengurangan kepekaan dan pembaharuan model dapat dilakukan dengan menggunakan cara yang sama. Kenaikan atau penurunan jumlah dapat diubah sesuai dengan keinginan.
  • Cara lain untuk memodifikasi kepekaan adalah dengan menekan invert button, kepekaan diubah secara matematika agar diperoleh data yang lebih baik. Ini adalah suatu proses iterative, dan inversion akan diproses sebanyak 10 iterasi. Pilihan inversion akan diuraikan seperti di bawah ini.

Mengubah Bentuk dari Body

  • Dilakukan dengan menggerakkan mouse, atau dengan memasukkan nilai numerik dari koordinat sudut body corner. Mengubah posisi corner dengan mouse, pilih corner dan klik, kemudian klik ke posisi yang baru. Ini dilakukan secara terus-menerus sampai pengguna merasa puas dengan bentuk body.
  • Cara lain dengan memasukkan koordinat numerik secara langsung. Jika pilihan tersebut telah dipilih, maka akan terlihat  kotak dialog seperti ini

Mengubah Manual Corner Coordinate

  • Nomor body ditunjukkan dibagian atas, dan nomor corner di atas sebelah kanan.. Koordinat dari  sudut ditunjukkan. Untuk merubah  bentuk body, enter koordinat yang baru, tekan tombol kalkulasi untuk memperbaharui model. Untuk memindahkan corner berikutnya, tekan tombol Next, atau menggunakan tombol Previous untuk mendapatkan previous corner.
  • Sebagai tambahan, corner pada salah satu body yang dihubungkan dengan corner yang lain, sehingga jika posisi satu diubah posisi dua akan berpindah.. Ini sangat bermanfaat jika body berbatasan dari satu dengan yang lainnya.
  • Body corner dapat ditambahkan (atau dihapus), maksimum sampai 50 corner setiap body.
  • Menambahkan satu body boleh juga dilakukan dengan menggambar satu layar body dengan menggunakan mouse, yaitu dengan memasukkan koordinat corner sesuai nomornya. Koordinat corner dapat dibaca di file ASCII pada disk.

Memindah, Mengcopy, atau Memutar sebuah Body

  • Memindah, Mengcopy, atau Memutar sebuah Body dilakukan secara interaktif. Sebagai contoh, memilih pilihan pindah akan ditunjukkan dialog berikut :

Memindah sebuah body

  • Memilih spinbutton next untuk pilihan perpindahan horizontal, akan menunjukkan perpindahan body dengan jarak yang sama dan menampilkan model terbaru. Untuk kedalaman dari body menggunakan cara yang sama. Cara yang lain, jika ingin mengetahui jarak maka pilih checkbox, kemudian dengan menggunakan mouse ambil body dan pindah ke posisi yang baru.
  • Cara pengcopyan suatu body sama seperti pemindahan body. Untuk memutar body gunakan dialog seperti berikut ini:

Pemutaran body

Pembalikan suatu Model

  • Pilihan pembalikan dibagi menjadi dua kategori, yaitu yang mempengaruhi keseluruhan body, seperti kepekaannya dan yang mengubah bentuk dari  body. 10 parameter dapat dibalikkan secara serempak, jika parameter adalah suatu jarak atau kedalaman body, atau kedalaman atau posisi horisontal dari suatu corner.

Parameter Pembalikan Badan Utuh

Dapat dilihat pada blok dialog sebagai berikut :

Pembalikan badan utuh

  • Kepekaan, sudut putar dan posisi body dapat dibalikkan secara serempak. Dibatasi dengan nilai yang mungkin pada tiap parameter. Saat parameter yang diinginkan telah terpilih, pembalikan dapat dilakukan

Meng-invert model

  • Parameter yang sedang di-invert telah muncul, dan memasukkan nominal dari jumlah iterasi. Saat dilakukan inversion, least-square error akan ter-display. Proses inversion akan terhenti jika mouse diklik.

 

Body Shape Inversion Parameters

  • Setiap sudut dari body kadang di-invert secara horizontal atau vertikal, atau kadang dalam dua arah tersebut. Arah panah horizontal dan vertikal pada sudut monitor menunjukkan arah parameter invers saat diklik dengan mouse.

Dipublikasi di Teknologi Reservoir | 5 Komentar

Trapping Mechanisms

Fundamental Types of Trap

  • Convex trap reservoirs
  • Permeability trap reservoirs
  • Pinc-hout (end of stratum) trap reservoirs
  • Fault trap reservoirs
  • Piercement (diapir) trap reservoirs

Convex Trap Reservoirs

  • Formed by folding or differential thicknesses of strata and due to convexity alone:

1.Porosity extends in all directions beyond the reservoir
2.Reservoir is surrounded by water (edge water)

Permeability Trap Reservoirs

  • Form due to changes in reservoir power
  • Reservoir partly defined by edge water and partly by a permeability barrier

Pinchout Trap Reservoirs

  • Formed by lenticular structures (e.g. reefs)
  • Periphery defined by edge water and the pinchout of the reservoir bed

Fault Trap Reservoirs

  • Periphery is defined partly by edge water and partly by a fault boundary

Piercement Trap Reservoirs

  • Formed by diapirs or volcanic necks
  • Reservoir defined by edge water and a piercement contact

By Far the Commonest Method of Describing Traps Is Based on Origin

  • Structural Traps: formed  by faulting of folding as the result of structural activity
  • Non-structural traps: stratigraphic pinchouts, permeability traps.

Structural of Traps

So, When Looking for Oil We Primarily Examine

  • Source rock: quality, amount

– Kerogen composition

– Thermal history of the area

  • Reservoir

– quality (poroperm), volume

– Shape (pinchouts)

– Stratigraphy (permeability barriers)

  • Structural history (trapping mechanisms)

Environmental Analysis: Benefits in Oil Exploration Problems in producing oil

-Toxicity: general protection of the workers
-Health & Safety: Piper Alpha
-Ecological impact of leaks:  Exxon Valdez
-Biggest problems: tracing the companies responsible for leaks

Applying Petroleum Geochemical Techniques to Environmental Protection

  • The best protection is the application of geochemical fingerprinting to spills and seeps

Typical Problem:Oil Spill Identified

  • Equidistant from a number of producing wells
  • No operator will confess to having had an oil leak
  • How do we locate the source?
  • The organic geochemist is brought in to identify the culprit.

Step 1: Sample and analyse the oil spill & oil sources

  • Many wells produce from multiple reservoirs so:

–        Need depth of reservoir and compositions

–        Samples of all oils produced

–        Sample from middle of spill

  • Use GC in first stages to fingerprint the oils

Interpretation

  • Alkane distributions, API gravity of no use: salt water action and biodegradation
  • Pristane Phytane ratios: specific to source, less susceptible to breakdown
  • Ni/V levels unaffected by biodegradation
  • Carbon isotopes are unaffected by seawater and biodegradation
  • GC-MS will specifically fingerprint the geochemical signature of the oil

Can We Sleep Easy in Our Beds?

  • The very techniques developed for oil exploration, and indeed the specialists who apply them are now employed in the regulation and identification of environmental offenders
Dipublikasi di Teknologi Reservoir | Meninggalkan komentar

Referensi

  • Petroleum Geology (1985).  F.K. North.  Allen & Unwin.
  • Organic Geochemistry for Exploration Geologists 1981. D. Waples. Burgess Publishing Company
  • Diagenesis (1990) Ian McIlreath & David Morrow (eds).  Geoscience Canada Reprint Series 4.
  • Introduction to the Petroleum Geology of the North Sea (1994 – 3rd Reprint). K.W. Glennie (ed). Blackwell Scientific Publications
  • Petroleum Geochemistry and Geology (1995), Hunt, J.M. Second Edition, New York, W.H. Freeman and Company, 743 pp.
  • More specific papers can be obtained from the reference lists in these publications
  • Piper Alpha: http://www.owlnet.rice.edu/~conway/piper/
  • Exxon Valdez: http://www.oilspill.state.ak.us/
  • Oil Spills:
  • http://www.acnatsci.org/erd/ea/marine_oil.html

 

 

Dipublikasi di Teknologi Reservoir | Meninggalkan komentar