Setelah sekian lama berkeinginan mendaki Gunung Semeru, kami berlima (Muammar Kadhafi, Rizqi Haryono, Fahmy Ardiansyah, Bakhtiar Ali Zamroni, dan Refi Efendi) bersepakat untuk mencoba tantangan mendaki puncak tertinggi pulau Jawa. Berawal dari ajakan Fahmi waktu chating di FB, lalu ide pendakian terus bergulir dan terakhir pagi sebelum berangkat, Refi memutuskan untuk ikut tim kami menggantikan salah satu teman yang batal berangkat. Berikut kisah perjalanan kami berlima.
Rabu, 1 Juni 2011
14.00
Setelah melakukan packing berbagai kebutuhan pendakian, kami start dari Lab. Hidrodinamika dengan bersepeda motor. Kami langsung menuju Medical Center ITS untuk meminta surat keterangan sehat dari dokter. Karena surat keterangan sehat menjadi syarat mutlak pendakian, kalau tidak ada maka jangan berharap bisa mendapatkan tiket pendakian. Namun kami gagal mendapatkannya, karena prosedurnya terlalu birokratif. Kami lantas banting setir menuju dokter lain, dan alhamdulillah berhasil dengan membayar Rp.5.000,- per orang. Tanpa membuang waktu kami lantas tancap gas menuju terminal Bungurasih Surabaya.
14.45
Kami sampai diterminal Bungurasih. Cepat-cepat kami menuju tempat penitipan motor, lalu kami bergegas menuju tempat pemberangkatan bus antar kota. O ya ongkos penitipan motor di Bungur Rp.2.000,- per hari. Setelah membeli karcis masuk seharga Rp.200,- per orang, kami langsung masuk dan mencari bus yang akan membawa kami menuju terminal Arjosari Malang. Dengan mempertimbangkan faktor kenyamanan, kami memutuskan menaiki bus Restu AC, namun dengan tarif biasa, yaitu Rp.8.000,- per penumpang.
15.07
Bus yang kami tumpangi berangkat dari Bungurasih menuju Arjosari. Ditengah jalan, banyak sekali penumpang yang naik, sehingga banyak yang rela berdiri. Namun rasa sesak bus sedikit lapang oleh alunan gitar dan biola pengamen jalanan, baru kali ini saya menikmati karya seni dari pengamen. Menyanyikan lagu Iwan Fals, dengan suara vokal dan tenor. Keren sekali, hingga membuat rasa ngantuk lenyap seketika. Inilah ngamen yang berkualtas
17.15
Kami menginjakkan kaki di terminal Arjosari Malang. Kawan kami yang belum menjama’ sholatnya segera menuju masjid terminal (karena didunia arab tidak ada istilah musholla, semua dikatakan masjid asal menjadi tempat khusus untuk sholat) untuk melaksanakan sholat asar. Lepas sholat, Madqo (sapaan akrab untuk Rizqi) mencari tau apakah masih ada angkot yang menuju Tumpang. Kabar dai Madqo, masih ada tiga angkot tersisa. Kami lantas menuju angkutan tersebut dan langsung menaikan barang-barang bawaan kami.
17.44
Kami berlima menuju Tumpang. Didalam angkot kami menikmati popcorn yang di bawa oleh Refi, berbagi dengan anak kecil yang tengah duduk manis disamping Ibunya. Kami bercerita macam-macam, hingga saya berkesimpulan bahwa cerita-cerita itu menunjukan semakin penasarannya kami dengan Semeru, karena bagi kami berlima ini adalah pendakian perdana kami ke Semeru, bahkan beberapa diantara kami ada yang baru pertama mendaki gunung. Terbayang bagaimana menggebunya perasaan kami berlima, dengan membawa misi menaklukan puncak tertinggi Pulau Jawa.
18.26
Asik bercerita, membuat kami lupa bahwa angkot yang kami tumpangi telah sampai ditempat tujuan. Kami baru tersadar ketika Pak Supir memberitau bahwa kami telah sampai di Tumpang. Saya atau mungkin teman-teman yang lain agak tidak percaya kalau sudah sampai Tumpang. Dalam benak saya tumpang tidak seramai ini. Di sini ada pasar, indomaret, warung-warung dipinggir jalan, penjual gorengan sampai penjual aksesoris Arema. Ketika mencoba meyakinkan diri, seorang pemuda mendekati kami, sepertinya dia sudah tau kami akan menuju Semeru. Kami lalu dipersilahkan menitipkan barang di depan Indomaret, kata pemuda tersebut, kami bisa berangkat kalo sudah ada pendaki lain sebagai teman bareng. Karena satu Jeep jatahnya 15 orang agar satu orang bisa membayar masing-masing Rp.30.000,-. Sambil menunggu pendaki lain kami lantas makan malam diwarung lalapan sebelah Indomaret. Aroma sambal lalapan saja sudah membuat perut kami keroncongan, ternyata lalapan disini tidak aromanya saja, tapi rasanya juga enak. Kami makan dengan lahap, bahkan Refi beberapa kali nambah sambal. Enak memang, hanya dengan Rp.6.000,- kita sudah dapat satu porsi lalapan dan nasi plus teh hangat. Habis makan kami lantas sholat magrib dan isya dengan menjama’ dimasjid dalam gang tidak jauh dari indomaret. Usai sholat, kami kembali dan berbincang dengan beberapa pemuda yang nongkrong didepan indomaret, dari sini saya tahu bahwa pemuda yang menyambut kami pernama Pandu, lalu ada juga yang lain bernama Herman. Herman lantas mengajak kami kerumahnya, katanya kami bisa langsung berangkat ke Ranupani dengan menumpang Jeep, hanya dengan Rp.50.000,- per orang. Karena tidak ada kepastian menunggu, kami lantas mengikuti ajakan Herman. Kami berlima kerumahnya dan tidak lama setelah sampai dirumahnya, kami didatangai bapak-bapak yang menawarkan sewa Jeep masing-masing orang Rp.55.000,-. Dengan berat hati kami kemudian menyetujuinya, karena hari semakin malam tanpa kepastian. Katanya, kami akan diikutkan bersama barang yang rencananya akan diantar ke Desa Ngadas sebelum Desa Ranupani. Bapak itupun lalu pergi meninggalkan kami setelah berjanji akan menjemput kami dengan Jeep.
21.15
Tengah terlelap tidur, saya terkaget karena dibangunkan oleh teman-teman bahwa supirnya sudah datang. Saya mencoba memulihkan kesadaran, lalu mengikuti langkah yang lain menuju Jeep. Saya memutuskan untuk duduk didepan disamping Pak. Supir. Tidak lama setelah itu saya pun tertidur, sekali-kali tersadar ketika terjadi perubahan tekanan udara yang dirasakan oleh telinga, hingga memaksa saya untuk memakai teknik selam dengan menutup hidung lalu ditekan hingga keluar udara ditelinga. Udara didalam terasa hangat oleh panas mesin mobil, walau udara diluar terasa beku.
22.30
Jeep yang kami tumpangi berhenti di Desa Ngadas, lalu menurunkan muatan. Teman-teman membantu menurunkan pupuk dari dalam jeep. Setelah semua rampung, kami lantas melanjutkan perjalanan. Sungguh indah memandangi bintang-gemintang dimalam beratap langit…:)
23.17
Kami sampai di Desa Ranupani, tempat lapor bagi para pendaki. Didepan kantor pelaporan juga telah ada beberapa pendaki lain yang istirahat. Setelah membayar ongos jeep ke pak supir, namanya Pak Sutris. kami lantas istirahat di teras masjid. Kami terlelap dalam buaian dinginnya Ranupani.
Kamis, 2 Juni 2011
04.00
Saya terbangun dan membangunkan kawan-kawan yang lain. Kami lantas siap-siap untuk sholat subuh. Setelah wudhu saya mencoba membuka pintu masjid dari sisi yang lain. Alamak..ternyata masjid tidak dikunci. Kenapa semalaman kami berjuang melawan dingin diluar ya?, ah semua sudah terlanjur. Kami lalu menyegerakan untuk sholat sambil menahan dingin. Usai sholat Refi terdengar merdu melantunkan tilawah dipojok masjid, sedang kami berempat sibuk ngobrol membicarakan hal tidak penting untuk melawan kebekuan pagi di Ranupani. Setelah selesai packing saya dan madqo menuju kantor untuk mengurus perijinan.
05.15
Kami mengurus ijin pendakian dikantor Balai Taman Nasional Resort Ranupani. Kantor masih tutup, baru buka jam 8 pagi. Karena kawatir tidak ada teman untuk mendaki, kami lantas mencoba membangunkan Pak Rizal, petugas perijinan. Sebenarnya sungkan sekali, tapi terpaksa kami lakukan karena kami berlima sebelumnya belum ada yang ke Semeru, sehingga harus mencari teman bareng. Walau dengan berat hati, Pak Rizal akhirnya mau melayani kami. Saya lalu mengisi form, dan membayar tiket sebesar Rp.5.750,- untuk masing-masing orang. Ini sudah didiskon karena kami mengaku sebagai Mahasiswa. Sedangkan untuk umum sebesar Rp.7.000,- per orang. Perijinan beres, dan kamipun sarapan di warung dekat kantor perijinan. Dengan menu nasi goreng lauk telur plus teh panas. Nikmat sekali apalagi saat dingin seperti ini. Dengan Harga Rp.10.000,- untuk satu porsi.
07.40
Kami memulai perjalanan pendakian Semeru. Kami menyusuri jalan aspal bersama lima pendaki lain yang datang dari Jakarta. Tidaka lama setelah itu, kami mengambil jalur kanan, mulai menaiki bukit pertama. Dari atas bukit nampak jelas suasana perkebunan dataran tinggi. Bentangan bukit sejauh mata memandang, deretan tanaman sayur berbaris rapi. Saya ingin berlama-lama memandanginya, tapi harus diurungkan karena perjalanan kami masih teramat panjang untuk mencapai puncak Semeru.
09.00
Kami tiba dipos 1 bersamaan dengan beberapa pendaki lain. Saya sempatkan berkenalan dengan mereka, ada beberapa anak UI yang ikut dalam rombongan tersebut. Dari penampilan mereka, terlihat sekali mereka adalah pendaki-pendaki yang berpengalaman. Tidak lama setelah itu saya melanjutkan perjalanan, mengejar teman-teman satu tim yang terlebih dahulu berangkat dari pos 1. Menuju pos 2 saya melewati jalur landai dan punggungan, hanya sekali-sekali saja bertemu tanjakan kecil,sehingga tidak terlalu menguras tenaga.





































